minus, plus, lalu kami

Pagi ini cerah banget deh jadi semangat menjalani hari. Itu yang terlintas di kepala saya tadi pagi. Tapi seketika mood saya hancur ketika saya tidak sengaja mengikuti obrolan dua temen kerja saya yang akan segera keluar, yang satu keluar karena sudah pensiun dan yang satu karena pindah ke tempat lain. Sejak awal kerja saya tahu atasan saya seorang warga negara keturunan dan bukan seorang muslim. Seharusnya sudah sejak dulu saya sadar bahwa saya mungkin menjadi kaum minoritas di sini karena saya seorang pribumi. Saya kira di jaman yang sudah merdeka ini tidak ada lagi diskriminasi karena SARA, tapi pada kenyataannya saya mengalami itu.

Ketika mulai bekerja hingga tahun ke 5 saya tidak terlalu mepermasalahkan hal itu, karena toh saya nyaman dengan teman-teman kerja saya. Memasuki tahun ke 5 teman-teman saya satu per satu keluar dengan berbagai alasan mulai dari yang pindah ke tempat yang baru, ikut suami, mau jadi ibu rumah tangga, jadi guru. Dan akhir kata saya yang tertinggal disini. Ditahun ke 5 ini lah mulai ada pergolakan, saya benar-benar merasakan diskriminasi itu. Ketika saya masuk saya memang belom berkerudung, tetapi sejak 2009 saya mulai berkerudung, dan mulai saat itu pula saya merasa terasingkan dan menjadi kaum minoritas. Ya kaum minoritas, yang mungkin kerjaan saya pun tidak dilihat.

Saya sadar sekarang kami yang minoritas adalah prioritas terakhir setelah minus (-), plus (+) lalu kami 0

CONVERSATION

0 komentar:

Back
to top